![]() |
| Ilustrasi Petani |
Di kalangan gerakan sosial Indonesia saat ini, petani pada umumnya dianggap sebagai kategori kelas sosial yang homogen. Status dan watak kelasnya dianggap tidak berbeda dengan buruh, karena sama-sama ditindas dan melawan kapitalisme. Yang berbeda hanyalah sektor dan isunya.
Pandangan seperti itu sebenarnya sudah dikritik sejak lama. Pada 1899, Lenin dalamPerkembangan Kapitalisme di Rusia Kapitalisme di Rusia Kapitalisme di Rusia Kapitalisme di Rusia Kapitalisme di Rusia menyumbang satu bab khusus untuk membahas diferensiasi kelas dalam petani. Yang lebih kontemporer, Henry Bernstein dalam Dinamika Kelas Perubahan Agraria juga membahas diferensiasi kelas dalam petani.
Dalam pandangan yang terakhir ini, petani bukanlah sebuah kelas sosial yang homogen. Tetapi, petani adalah sebuah kelompok sosial yang terbagi ke dalam kelas-kelas. Henry Bernstein, misalnya, membagi petani ke dalam: (1) petani kapitalis atau kaya, yang usaha taninya mengalami reproduksi yang meluas (expanded reproduction); (2) petani menengah, yang usaha taninya mengalami reproduksi sederhana (simple reproduction), dan (3) petani miskin, yang usaha taninya mengalami reproduksi sederhana yang terhimpit (simple reproduction squeeze).
Watak atau kepentingan petani itu juga terdiferensiasi, tidak homogen. Tidak semua gerakan tani mengartikulasikan kepentingan petani miskin atau “semi-proletariat.” Seperti yang dicontohkan Henry Bernstein, Karnataka Rajya Ryota Sangha (Asosiasi Petani Negara Bagian Karnataka), sebuah organisasi petani di India yang merupakan anggota jaringan La Via Campesina, adalah organisasi petani kaya dan menengah yang menindas pekerja pedesaan.
Tradisi Marxis sendiri sudah lama bersikap kritis terhadap petani. Manifesto Komunis, misalnya, menganggap petani sebagai bagian dari “kelas menengah” yang cenderung berwatak konservatif, bahkan reaksioner dalam hubungannya dengan kapitalisme. Ketika mereka melawan kapitalisme, mereka tidak melawan kapitalisme untuk menuju kepada kepemilikan sosial atas alat-alat produksi, melainkan untuk mempertahankan kepemilikan kecil mereka yang sedang dihancurkan oleh kapitalisme. Alih-alih menuju sosialisme, mereka hendak “memutar balik roda sejarah” untuk kembali ke relasi kepemilikan kecil seperti pada masa pra-kapitalis.
Manifesto Komunis terbuka dengan kemungkinan petani bisa berwatak revolusioner. Namun, watak revolusioner petani bisa muncul jika mereka menyadari bahwa masa depan mereka tidak lagi terletak pada sistem kepemilikan kecil mereka, melainkan pada kepindahan mereka menjadi proletariat. Dalam hal ini, mereka bisa merasa satu kepentingan dengan proletariat dalam memperjuangkan kepemilikan sosial atas alat-alat produksi.Petani miskin atau petani hutan memiliki potensi untuk berwatak revolusioner. Mereka sering berkonflik dengan perusahaan, kebanyakan karena lahan mereka dirampas oleh perkebunan berskala besar, pertambangan dan Negara.
Minimnya intervensi pengetahuan Marxis dalam berbagai isu atau persoalan rakyat, termasuk persoalan agraria, memang merupakan salah satu problem gerakan Marxis di Indonesia saat ini. Hasilnya, banyak aktivis kiri yang kebingungan dan terombang-ambing oleh berbagai macam wacana yang beredar di gerakan, yang belum tentu membawa kemajuan bagi gerakan dan perubahan sosial. Namun, ini bukan berarti kita perlu mengambil sikap “ultra-kiri” yang membuat gerakan Marxis susah diterima massa. Yang diperlukan adalah mengambil sikap teguh dalam prinsip dan tujuan jangka panjang, namun fleksibel dalam taktik.
Sumber : http://www.prp-indonesia.org/2016/diferensiasi-kelas-dan-watak-petani#diferensiasidanwataktani2b

Komentar
Posting Komentar