Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dengan label progresif

SUDAHKAH PETANI KITA MERDEKA?

Merdeka? Jika diukur dari umur, usia negeri ini tidak ada apa-apanya dari usia petani. Sebelum negeri bernama Indonesia berdiri, eksistensi petani sudah jauh diakui. Dalam naskah-naskah sejarah diuraikan, petani dan warga perdesaan merupakan penopang utama keberhasilan merebut kemerdekaan. Tidak hanya menyediakan tempat persembunyian, peran petani dan warga perdesaan paling penting ialah menjamin logistik para pejuang. Mustahil pejuang menang berjuang dengan perut kosong. Pertanyaannya, sudahkah petani kita merdeka? Jumlah petani saat ini mencapai 54% dari jumlah rakyat Indonesia. Logikanya, jika rakyat merasakan kemerdekaan, otomatis kemerdekaan juga dirasakan petani. Jika tidak, siapa sebenarnya yang memetik kemerdekaan selama 72 tahun ini? Bagaimanakah kehidupan petani setelah 72 tahun merdeka: apakah semakin sejahtera, tetap, atau bahkan kian menderita? Benarkah petani semakin tidak berdaya? Apakah indikasinya? Bagaimana membuat mereka merdeka dalam arti ses...

MENGHIDUPKAN KEMBALI KEBHINEKAAN DI LAHAN PERTANIAN

Petani Berbhineka Penulis:Dedek Hendry, Sumberdaya hayati di Indonesia sangatlah kaya. Kendati wilayah darat Indonesia hanya 1,3 persen dari seluruh wilayah darat dunia, di dalamnya terkandung 10 persen dari spesies tanaman dunia, 12 persen dari spesies mamalia, 16 persen dari spesies reptil dan amfibi dan 17 persen dari spesies burung (Bappenas dalam Barber dkk, 1997). Bukan hanya sekadar kaya, bahkan sebagian darinya merupakan spesies endemik. Misalnya untuk jenis mamalia, dari 515 jenis yang ada, 39 persennya merupakan endemik. Demikian pula untuk spesies burung, dari 1,531 jenis, 397 jenis adalah endemik. Dan dari 477 jenis palem, 225 di antaranya terkategori endemik (Sunarto, 2003). Kekayaan sumberdaya hayati itu telah menjadi sumber kehidupan bagi masyarakat Indonesia. Diperkirakan sekitar 40 juta penduduk Indonesia tergantung pada keragaman hayati secara langsung untuk menyambung kehidupannya (Bapennas dalam Jahmtami, 1994). Mereka yang tinggal secara turun temurun d...

REFORMASI AGRARIA DAN HARAPAN PETANI

Ilustrasi Petani Oleh: Panji Dafa Mahasiswa Perikanan UGM 2016 Bagi negara-negara agraris, masalah tanah pada hakikatnya adalah masalah fundamental. Sudah disadari pula bahwa permasalahan dalam ranah agraria merupakan permasalahan yang rumit dan peka, menyangkut berbagai macam sendi kehidupan. Oleh karena itu, perlu adanya pendekatan antardisiplin ilmu. Kalau kita telaah bersama, sepanjang sejarah, sejak manusia berburu dan meramu, lalu bertani secara nomaden, mengembara sampai pada bercocok tanam secara menetap, peguasaan dan pemanfaatan tanah sering kali menimbulkan polemik sengketa. Dengan berlangsungnya waktu, di dalam masyarakat, tumbuh dan berkembang sistem pembagian pekerjaan yang makin lama makin menjadi rumit. Dengan timbulnya kota-kota, atau pusat-pusat kekuasaan, akhirnya tidak semua manusia mengolah tanah. Mereka yang berada di kota sibuk dengan berbagai kegiatan lain, sedangkan mereka yang di desa bekerja menggarap tanah dan menghasilkan bahan pangan bagi selu...

MASALAH AGRARIA, PETANI DAN KEDAULATAN

Aksi Petani Tuntut Keadilan Agraria Oleh: Firmansyah Tasril Siapa menguasai tanah, ia menguasai pangan, atau ia menguasai sarana-sarana kehidupan. siapa menguasai sarana kehidupan, ia menguasai manusia! Barangkali motto inilah yang mengantarkan Christoper Columbus secara filosofis mendarat di sebuah benua yang selanjutnya di berinama Amerika. Dari penemuan ini jualah hasrat akan penguasaan sumber-sumber kehidupan dan sumberdaya alam mulai tak tertahankan. Sehingga penduduk asli benua harus diperangi, tersingkir dan kehilangan akan hak atas tanah moyang (ulayat) dan sumber kehidupan. Ekspansi fisik dan kekuatan bersenjata merupakan metode efektif dalam menguasai hak orang lain, lalu dibuatlah legalisasi kepemilikan atas hak orang lain itu dengan menggunakan pendekatan hukum. Lain kata, ‘merampok’ tapi dianggap sah secara hukum. Aneh bukan?! Metode dengan penggunaan kekuatan senjata adalah metode konvensional yang dilakukan beberapa abad yang lalu. Artinya, hasrat untuk meng...

SAATNYA PETANI BERDAULAT

Petani Panen Padi “Sebagai manusia, petani juga mempunyai harapan dan mempunyai pula rasa gembira dan rasa kecewa. Kaum tani harus yakin bahwa dia bekerja untuk masa depannya.” [Soekarno, Tahun Vivere Pericoloso, 1964]. Oleh: Aria Bima Menjadi petani, terutama petani padi, rasanya makin sulit. Ketika harga padi atau beras naik sedikit saja, pemerintah melalui Departemen Perdagangan dan Bulog buru-buru membanjiri pasar dengan beras murah, yang sebagian besar berasal dari beras impor. Tapi, saat panen raya tiba dan harga anjlok, pemerintah dan Bulog tak sigap menyerap produksi petani. Petani yang posisi tawarnya lemah harus menghadapi sendiri para tengkulak bermodal kuat. Niat pemerintah membantu petani dengan menetapkan harga pembelian pemerintah (HPP) pada masa panen raya pun tak banyak membantu. Pasalnya, seperti kita lihat tahun ini, HPP justru di bawah harga pasar. Dengan HPP seperti itu, tentu saja Bulog ogah membeli produksi petani. Sebab, sebagai perum yang misinya...

REGENERASI PETANI DAN LAHAN SUBUR INDONESIA?

Bertani Lintas Generasi Oleh : Yusuf Fahrizal Mahasiswa Vokasi Universiatas Airlangga Indonesia adalah negara Agraris tapi kenapa Indonesia masih mengimpor bahan makanan pokok dari luar negeri dan parahnya kebanyakan para petani di sawah telah menginjak usia lanjut, dan seharusnya para pemudahlah yang melanjutkan perjuangan mereka terutama mahasiswa yang menimba ilmu di bidang pertanian. Padahal Indonesia memiliki banyak lulusan dibidang pertanian, lalu kemana saja alumni / mahasiswa pertanian ? yang seharusnya mereka mengembangkan sektor-sektor pertanian yang ada di Indonesia ini dengan ilmu-ilmunya ,  Apakah mungkin mereka menganggap remeh pekerjaan menjadi seorang petani ? hal ini dirasa selaras dengan Tan Malaka yang mengungkapkan “ Bila kaum muda yang telah belajar di sekolah menganggap dirinya terlalu tinnggi dan pintar untuk melebur dengan masyarkat yang bekerja dengan cangkul dan hanya memiliki cita-cita yang sederhana maka lebih baik pendidikan itu tidak diber...

PENDIDIKAN TINGGI, MIMPI ANAK PETANI MELARAT

Anak Desa Oleh : Boyan Pendidikan yang membumi merupakan pendidikan yang dialogis. Pendidikan yang membumi ini melihat antara teks (teori) pendidikan dengan konteks (realitas social). Di desa kecil di sebuah kawasan Jawa Tengah ada sebuah tipe sekolah menarik, pendidikan untuk anak petani. Dengan cita-cita utama mewujudkan sebuah system pendidikan yang berguna bagi kehidupan. Pendidikan anak petani merupakan pendidikan pemberontakan. Sebuah bentuk pendidikan yang lain dari apa yang kita saksikan selama ini. Dimana pendidikan hanya mengajarkan bagaimana seseorang tergantung pada universitas (SMA) dan tekhnologi (SMK). Pendidikan alternative membetot segala silang sengkarut pendidikan yang selama ini hanya bagus di teks (KTSP) tanpa melihat situasi riil yang dihadapi masyarakat. Model pendidikan alternative hadir dari kebutuhan masyarakat yang butuh kelanjutan. Melanjutkan generasi tani yang hamper mati akibat hilangnya potensi desa karena ditinggal sebagian terbesar tenaga ke...

REGENERASI PETANI, MODAL PENTING KEDAULATAN PANGAN

Regenerasi Petani Oleh : Aditya Herwin Dwiputra Pangan merupakan kebutuhan utama seluruh manusia. Kebutuhan pangan terus meningkat dari tahun ke tahun, hal ini terlihat dari permintaan bahan pangan di pasar yang cenderung terus meningkat. Pemerintah memang sudah menyadari kebutuhan pangan merupakan kebutuhan utama yang harus dipenuhi, sehingga muncul program-program yang bertujuan untuk mencapai swasembada pangan seperti Repelita pada era orde baru dan program Upaya Khusus Tanaman Padi,Jagung dan Kedele (UPSUS PAJALE) pada era pemerintahan kini sebagai upaya dalam memenuhi kebutuhan pangan nasional. Regenerasi petani akan menjadi permasalahan krusial,jika kita melihat data Petani menurut klasifikasi umur yang di terbitkan oleh Badan Pusat Statistik pada tahun 2013. Sekitar 61% petani utama berusia lebih dari 45 tahun, 1% petani berusia 15-24 tahun, 12% berusia 25-34 tahun dan 26% berusia 35-44 tahun. Hal ini mengindikasikan bahwa regenerasi muda kurang tertarik menjadi petani da...

BERGURULAH KEPADA PETANI

Petani Malang Oleh: Abu Rafif Irfan Selalu ada hal menarik ketika mengamati kehidupan para petani. Petani adalah salah satu guru kehidupan terbaik. Di setiap langkah hidupnya ada pelajaran yang bisa dipetik untuk cermin berkaca bagi siapapun. Salah satunya, petani adalah simbol keiklasan dan ketulusan dalam menjalankan profesi. Jutaan petani rela bersimbah peluh, berlepotan lumpur sawah, berjemur ditengah terik matahari untuk menanam dan memelihara tanaman di sawah dan ladangnya. Tidak ada sedikitpun rasa enggan dan malas ketika harus terjun ke sawah di pagi buta, menyiangi tanaman di siang hari, dan memupuk di sore hari. Tidak ada sedikitpun keluhan ketika harus berburu tikus yang menyerang lahan tanamnya, atau menyemprot pestisida karena tanaman padinya diserbu wereng. Keiklasan dan ketulusan itu makin tampak ketika mereka harus melepas hasil panen untuk dijual ke pasar atau tengkulak. Tidak pernah ada pernyataan keluar dari bibir mereka bahwa kerja keras merekah yang telah...

MANISNYA TEBU TAK SEMANIS NASIB PETANINYA

Petani mengayuh Sepeda Oleh: Muhammad Rizvied BERBEKAL sepeda tuanya yang bontot, berusia kira-kira separuh umurnya yang telah memasuki kepala tujuh, Kakek tua rentah ini mengayuh sepedanya menuju sebuah lahan pertanian tebu yang letaknya ratusan meter dari tempat tinggalnya di kabupaten Takalar. Takalar adalah sebuah kabupaten di Sulawesi Selatan yang jaraknya 75 kilometer dari Makassar, Ibukota Provinsi Sulawesi Selatan (Sulsel). Kakek ini adalah seorang buruh harian (Petani tebu) yang bekerja disebuah lahan milik pemerintah di wilayah Polongbangkeng, kabupaten Takalar Sulsel. Walaupun telah puluhan tahun menjadi petani tebu. Pria tua ini tetap saja berkutak dengan kemiskinan. Polobangkeng adalah sebuah wilayah yang terbagi dalam dua kecamatan. Yakni Polobangkeng utara dan selatan. Di daerah ini sedikitnya terdapat 12 desa, yang 85 persen penduduknya adalah petani miskin. Sepertinya petani disana tak akan pernah sejehtera. Mengingat upah dan terus merosotnya harga gula. Keb...

Mencermati Alih Status Hutan Lindung Gunung Tumpang Pitu (HLGTP) Banyuwangi

Ilustrasi Pertambangan Oleh : Rosdi Bahtiar Martadi Banyuwangi, Harian Pemalang – Undang-Undang no. 41 tahun 1999 tentang Kehutanan melarang kegiatan open pit mining (penambangan terbuka) di hutan lindung. Larangan ini rupanya disiasati oleh penguasa dan korporasi dengan melakukan sejumlah langkah untuk menurunkan status Hutan Lindung Gunung Tumpang Pitu (HLGTP). Mengapa status HLGTP perlu diturunkan? Sebab jika Tumpang Pitu statusnya masih hutan lindung, maka rencana penambangan emas di dalamnya akan terganjal dengan larangan Undang-Undang no. 41 tahun 1999 tentang Kehutanan. Karena itu, dengan tujuan memuluskan rencana penambangan emas, maka status Hutan Lindung Gunung Tumpang Pitu harus diturunkan. Diturunkan dari hutan lindung menjadi hutan produksi. Secara administratif Hutan Lindung Gunung Tumpang Pitu (HLGTP) masuk dalam Bagian Kesatuan Pemangkuan Hutan (BKPH) Sukamade, Kecamatan Pesanggaran, Kabupaten Banyuwangi. Untuk memuluskan rencana eksploitasi emas di HLGTP, Me...

HARUSNYA PETANI ITU...

Oleh : Bangun Sutoyo S.E Seharusnya petani menjadi raja dan merdeka di tanah sendiri,tapi tidak demikian dengan petani-petani ayam broiler di negara ini,banyak kepentingan-kepentingan para pemodal besar yang membuat peternak-peternak (petani) kecil tidak mempunyai banyak pilihan,tidak memiliki ruang dan akses untuk berkembang di karenakan ketergantungan-ketergantungan dari dari industri besar di hulu dan fluktuatif harga barang jadinya,secara tidak sadar dan secara masif peternak rakyat yang mempunyai modal sangat terbatas di bunuh secara kharakter dan kesempatan-kesempatan untuk bertumbuh kembang di kebiri secara sistematis,banyak pola-pola yang di bangun atau di ciptakan para pemilik modal yang membuat peternak menjadi pecandu dari sistem, seperti pola kemitraan atau pola inti-plasma pada budidaya ayam broiler Pola inti-plasma yang seharusnya di buat untuk membuat peternak menjadi mandiri tapi sebaliknya peternak di buat menjadi kecanduan atau di ibaratkan menjadi sapi perahan...

Dimana dan Kenapa Mahasiswa Pertanian?

Petani ditangkap Dengan Nama Tuhan yang Maha Pengasih, dan Maha Penyayang. Hidup Mahasiswa! Hidup Rakyat Indonesia! Hidup Pertanian Indonesia! Mahasiswa pada hakekatnya adalah penyambung lidah rakyat. Sudah menjadi marwahnya mahasiswa membela kaum tertindas, seperti petani dan buruh. Mahasiswa menjadi garda terdepan dalam menerima aspirasi dari masyarakat dan menjadi garda terdepan pula dalam menyampaikan aspirasi tersebut kepada pemerintah. Namun, sampai saat ini dimana dan kenapa mahasiswa pertanian? Ketika lahan pertanian dan wilayah pertanian diambil atau bahkan direbut paksa oleh pihak-pihak yang tidak bertanggungjawab dan tidak memiliki kesadaran bahwa sumber pangan mereka dari pertanian, dimana mahasiswa pertanian? Ketika para petani berjibaku mempertahankan sawah dan ladangnya sampai-sampai menerima kekerasan fisik dan mental, dimana mahasiswa pertanian? Kawan-kawan ingat pada November 2016, ketika aparat keamanan yang terdiri dari Kepolisian dan TNI menggusur se...

TANAH UNTUK RAKYAT?

Kuasa Tirani mengbil Ruang Kehidupan Rakyat oleh: Hartini Wirapajar Peraturan pemerintah yang tak segera menyelesaikan persoalan pertanahan  dan peraturan Presiden tentang ‘tanah’ semakin urgen dan butuh penegasan. Mengingat UUPA tahun 1960 yang menjadi cita-cita founding fathers tidak ada upaya pemimpin saat ini untuk melaksanakan distribusi tanah ke petani miskin. Konflik yang terjadi di berbagai daerah selalu absen dari perbincangan publik.. Konflik di Karawang baru-baru ini, dan konflik yang sudah lama seperti di Riau, Lampung dan Kalimantan harus diselesaikan dengan memberi keadilan pasti kepada rakyat yang lelah dan selalu kalah dengan pemilik modal. Upaya untuk mencetak 2 juta lahan pertanian baru, masih dirasakan pesimis mengingat lahan pertanian tersebut akan dikelola oleh negara sebagai pemilik sah tanah. Jika upaya distribusi tanah ke petani miskin hanya janji-janji, sampai kapanpun yang memenangkan perebutan tanah sejak era kolonial sampai pemerintahan Indon...

PARADOKS PERTANIAN INDONESIA : NEGERI AGRARIS TAPI TANPA KEDAULATAN PERTANIAN

Ilustrasi Petani Saat Ini Pertanian di Indonesia saat ini berada dalam situasi paradoks, negeri agraris namun tidak memiliki kedaulatan pertanian. Kondisi ini nyatanya sudah terjadi sejak zaman penjajahan Belanda. Hal itulah yang disampaikan Guru Besar Fakultas Pertanian (Faperta) Unpad Prof. Dr. Maman Haeruman Karmana, Ir., M.Sc., saat memberikan orasi ilmiah purnabaktinya berjudul “Membangun Kedaulatan Pertanian”, Rabu (25/09) di Bale Sawala Gedung Rektorat Unpad Kampus Jatinangor. Menurutnya, sejak zaman Belanda sistem pertanian di Indonesia sudah terbagi menjadi dua, yaitu sistem ekonomi pribumi (bumiputera) dan sistem ekonomi perkebunan (kapitalis). “Sistem ekonomi pribumi terbagi menjadi 3 bagian, yaitu padi, holtikultura, serta perkebunan rakyat. Ironisnya, perkebunan yang dikelola rakyat pun hanya menghasilkan bahan mentah yang tidak langsung diolah,” ujar Prof. Maman. Guru Besar Bidang Pembangunan Pertanian itu mengungkapkan, saat ini warisan sistem pertanian tersebu...

PANDANGAN MASA DEPAN PERTANIAN INDONESIA

Gambar Ilustrasi Secara umum dapat dikemukakan bahwa pembangunan pertanian diarahkan untuk meningkatkan pendapatan dan taraf hidup petani dan nelayan, memperluas lapangan kerja dan kesempatan usaha, serta mengisi dan memperluas pasar, baik pasar dalam negeri maupun pasar luar negeri. Ini dilakukan melalui pertanian yang maju, efisien dan tangguh sehingga makin mampu meningkatkan dan menganekaragamkan hasil, meningkatkan mutu dan derajat pengolahan produksi, dan menunjang pembangunan wilayah. Untuk mencapai pembangunan dan kemajuan sector pertanian itu dilakukan berbagai usaha dengan cara intensif, ekstensifikasi dan diversifikasi pertanian. Usaha-usaha ini dilaksanakan dengan melalui perencanaan dan penyelenggaraan yang secara terpadu dan disesuaikan dengan kondisi tanah, air, iklim, pola tata ruang, uapaya pelestarian lingkungan hidup, pembangunan sector lain, serta kehidupan dan kebutuhan masyarakat setempat. Usaha tersebut juga dikembangkan dengan memperhatikan dan didukung s...

EVOLUSI PERTANIAN, REVOLUSI INDUSTRI DAN MASA DEPAN PETANI

Ilustrasi Hingga abad 18, semua petani di belahan bumi ini masih menggunakan pertanian alami. Revolusi industri yang terjadi di Eropa telah mengubah wajah dunia menjadi serba cepat, massal dan global. Merkantilisme yang bergerak diawal abad 16 yang ditandai dengan penjelajahan samudera dan benua baru oleh bangsa eropa semakin menemukan pasangannya setelah revolusi industri pecah di prancis dan inggris. Pelan-pelan merkantilisme berubah menjadi kolonialisme di bumi Asia, Afrika dan amerika latin. Pengenalan berbagai macam tanaman perkebunan untuk kepentingan eropa dikembangkan secara besar-besaran di negeri jajahan , termasuk Indonesia. Orientasi pertanian berubah dari upaya memenuhi kebutuhan pangan domestik menjadi kebutuhan ekspor. Perlahan tapi pasti, rakyat dipaksa untuk membuka hutan menjadi perkebunan teh, karet, kina, kopi, kakau dan lainnya. pemanfaatan lahan untuk perkebunan semakin menjauhkan petani terhadap jenis tanaman pangan untuk kebutuhan keluarga. Pada situasi ini...