Langsung ke konten utama

EVOLUSI PERTANIAN, REVOLUSI INDUSTRI DAN MASA DEPAN PETANI

Ilustrasi

Hingga abad 18, semua petani di belahan bumi ini masih menggunakan pertanian alami. Revolusi industri yang terjadi di Eropa telah mengubah wajah dunia menjadi serba cepat, massal dan global. Merkantilisme yang bergerak diawal abad 16 yang ditandai dengan penjelajahan samudera dan benua baru oleh bangsa eropa semakin menemukan pasangannya setelah revolusi industri pecah di prancis dan inggris. Pelan-pelan merkantilisme berubah menjadi kolonialisme di bumi Asia, Afrika dan amerika latin. Pengenalan berbagai macam tanaman perkebunan untuk kepentingan eropa dikembangkan secara besar-besaran di negeri jajahan , termasuk Indonesia. Orientasi pertanian berubah dari upaya memenuhi kebutuhan pangan domestik menjadi kebutuhan ekspor. Perlahan tapi pasti, rakyat dipaksa untuk membuka hutan menjadi perkebunan teh, karet, kina, kopi, kakau dan lainnya. pemanfaatan lahan untuk perkebunan semakin menjauhkan petani terhadap jenis tanaman pangan untuk kebutuhan keluarga. Pada situasi inilah banyak terjadi kelaparan di masyarakat pinggir hutan dan perkebunan. Kemiskinan, kebodohan, dan kelaparan yang menimpa petani di pedesaan menyebabkan perlawanan yang keras dari petani di berbagai daerah di Indonesia, seperti Banten, jawa tengah, jawa timur hingga luar jawa. Perasaan senasiblah yang akhirnya menjadikan Bangsa Indonesia ini merdeka. Jutaan nyawa petani melayang selama proses penjajahan. Tentu pengorbanan ini seharusnya dibayar dengan perbaikan nasib petani setelah kemerdekaan. pasca kemerdekaan, belum terlihat upaya yang serius dari pemerintah untuk mensejahterakan petani. harapan petani untuk memiliki lahan hanya sebatas diakomodir dalam UUPA N0 5 tahun 1960. Namun UU ini belum pernah dilaksanakan. Gelombang revolusi hijau semakin meluluhlantakkan semangat petani dalam memperbaiki nasibnya. Dengan kepemilikan lahan yang sangat sempit, petani terpaksa mengikuti kebijakan pemerintah- khususnya petani padi- untuk menggunakan bahan kimia dan bibit hibrida agar produksinya maksimal. Memang benar, petani bisa panen tiga kali dan dengan produksi yang lebih baik, tetapi petani tetap tak berdaya dikarenakan harga yang jatuh tiap kali panen. Hingga kini, setelah reformasi berjalan lebih dari 10 tahun. nasib petani tetap sama seperti zaman penjajahan dulu. bahkan adanya berbagai perjanjian perdagangan internasional seperti WTO, Free Trade Area dan sejenisnya, semakin melemahkan petani Indonesia. Banjirnya produk impor dengan harga yang lebih murah seakan menjadi pertanda, petani indonesia sedang sekarat. ....perlu revolusi pertanian bukan hanya sekedar evolusi, jika masih yakin bahwa petani adalah sokoguru bangsa indonesia. Jika Petani ambruk maka bangsa ini pun tinggal menunggu waktu saja.., semoga arwah para petani yang mati dalam perjuangan bangsa ini diterima disisi-Nya, Amien..

Selengkapnya : http://m.kompasiana.com/45adil/evolusi-pertanian-revolusi-industri-dan-masa-depan-petani_55001bf1a33311926f50ff57

Komentar

Postingan populer dari blog ini

PENDIDIKAN TINGGI, MIMPI ANAK PETANI MELARAT

Anak Desa Oleh : Boyan Pendidikan yang membumi merupakan pendidikan yang dialogis. Pendidikan yang membumi ini melihat antara teks (teori) pendidikan dengan konteks (realitas social). Di desa kecil di sebuah kawasan Jawa Tengah ada sebuah tipe sekolah menarik, pendidikan untuk anak petani. Dengan cita-cita utama mewujudkan sebuah system pendidikan yang berguna bagi kehidupan. Pendidikan anak petani merupakan pendidikan pemberontakan. Sebuah bentuk pendidikan yang lain dari apa yang kita saksikan selama ini. Dimana pendidikan hanya mengajarkan bagaimana seseorang tergantung pada universitas (SMA) dan tekhnologi (SMK). Pendidikan alternative membetot segala silang sengkarut pendidikan yang selama ini hanya bagus di teks (KTSP) tanpa melihat situasi riil yang dihadapi masyarakat. Model pendidikan alternative hadir dari kebutuhan masyarakat yang butuh kelanjutan. Melanjutkan generasi tani yang hamper mati akibat hilangnya potensi desa karena ditinggal sebagian terbesar tenaga ke...

MASALAH AGRARIA, PETANI DAN KEDAULATAN

Aksi Petani Tuntut Keadilan Agraria Oleh: Firmansyah Tasril Siapa menguasai tanah, ia menguasai pangan, atau ia menguasai sarana-sarana kehidupan. siapa menguasai sarana kehidupan, ia menguasai manusia! Barangkali motto inilah yang mengantarkan Christoper Columbus secara filosofis mendarat di sebuah benua yang selanjutnya di berinama Amerika. Dari penemuan ini jualah hasrat akan penguasaan sumber-sumber kehidupan dan sumberdaya alam mulai tak tertahankan. Sehingga penduduk asli benua harus diperangi, tersingkir dan kehilangan akan hak atas tanah moyang (ulayat) dan sumber kehidupan. Ekspansi fisik dan kekuatan bersenjata merupakan metode efektif dalam menguasai hak orang lain, lalu dibuatlah legalisasi kepemilikan atas hak orang lain itu dengan menggunakan pendekatan hukum. Lain kata, ‘merampok’ tapi dianggap sah secara hukum. Aneh bukan?! Metode dengan penggunaan kekuatan senjata adalah metode konvensional yang dilakukan beberapa abad yang lalu. Artinya, hasrat untuk meng...

SUDAHKAH PETANI KITA MERDEKA?

Merdeka? Jika diukur dari umur, usia negeri ini tidak ada apa-apanya dari usia petani. Sebelum negeri bernama Indonesia berdiri, eksistensi petani sudah jauh diakui. Dalam naskah-naskah sejarah diuraikan, petani dan warga perdesaan merupakan penopang utama keberhasilan merebut kemerdekaan. Tidak hanya menyediakan tempat persembunyian, peran petani dan warga perdesaan paling penting ialah menjamin logistik para pejuang. Mustahil pejuang menang berjuang dengan perut kosong. Pertanyaannya, sudahkah petani kita merdeka? Jumlah petani saat ini mencapai 54% dari jumlah rakyat Indonesia. Logikanya, jika rakyat merasakan kemerdekaan, otomatis kemerdekaan juga dirasakan petani. Jika tidak, siapa sebenarnya yang memetik kemerdekaan selama 72 tahun ini? Bagaimanakah kehidupan petani setelah 72 tahun merdeka: apakah semakin sejahtera, tetap, atau bahkan kian menderita? Benarkah petani semakin tidak berdaya? Apakah indikasinya? Bagaimana membuat mereka merdeka dalam arti ses...