Langsung ke konten utama

HARUSNYA PETANI ITU...


Oleh : Bangun Sutoyo S.E

Seharusnya petani menjadi raja dan merdeka di tanah sendiri,tapi tidak demikian dengan petani-petani ayam broiler di negara ini,banyak kepentingan-kepentingan para pemodal besar yang membuat peternak-peternak (petani) kecil tidak mempunyai banyak pilihan,tidak memiliki ruang dan akses untuk berkembang di karenakan ketergantungan-ketergantungan dari dari industri besar di hulu dan fluktuatif harga barang jadinya,secara tidak sadar dan secara masif peternak rakyat yang mempunyai modal sangat terbatas di bunuh secara kharakter dan kesempatan-kesempatan untuk bertumbuh kembang di kebiri secara sistematis,banyak pola-pola yang di bangun atau di ciptakan para pemilik modal yang membuat peternak menjadi pecandu dari sistem, seperti pola kemitraan atau pola inti-plasma pada budidaya ayam broiler

Pola inti-plasma yang seharusnya di buat untuk membuat peternak menjadi mandiri tapi sebaliknya peternak di buat menjadi kecanduan atau di ibaratkan menjadi sapi perahan perusahaan inti. Dengan pola-pola yang di bangun sudah cukup lama membuat peternak tidak mempunyai banyak pilihan dan terkesan mempunyai nilai tawar yang rendah di banding perusahaan inti.terjadinya monopoli kecil dalam pelaksanaanya seperti peternak tidak di libatkan atas pembuatan harga barang dasar hingga barang jadi,distribusi pembagian keuntungan yang hanya kalangan tertentu yang bisa mengukur,akses mereka untuk mengetahui kualitas bahan dasar seperti bibit,pakan dan obat obatan terkesan dibatasi oleh pihak inti,dengan pola seperti ini sangat memungkinkan untuk membuat peternak tidak berkembang,tumbuh,kreatif dan berinovasi,dengan pola seperti ini yang berlasung cukup lama membuat  peternak hanya di giring dengan keadaan untuk bertahan hidup dan sebagian meninggalkan profesinya dengan rasa prustasi.

Pola-pola kemitraan yang seharusnya sejajar,terbuka dan saling menguatkan sangat kecil kemungkinannya terjadi yang disebabkan dengan orientasi keuntungan yang besar dan karakteristik bisnis ayam broiler  yang cukup cepat dalam segi waktu,sehingga bisa dikatakan para peternak hanya bisa menonton hasil kerjanya tanpa bisa menikmati yang layak dah hanya menjadi sapi perahan dari perusahaan inti,tanpa diberikan kesempatan dan akses untuk berkembang

Adanya rumus-rumus tertentu yang di gunakan sebagai tolak ukur pembuatan harga dasar dan harga jual yang di tawarkan inti membuat peternak tidak menyadari bagaimana distribusi pembagian keuntungan pihak inti dan berapa yang seharusnya dinikmati oleh peternak,perputaran uang yang cukup besar,kredit bahan baku,kemampuan teknis dan penguasaan pasar yang sangat terbatas membuat posisi tawar peternak menjadi sangat lemah, bahkan seperti di jajah oleh perusahaan inti

Banyak lahirnya perusahaan inti yang baru sangat terbalik dengan kondisi banyak peternak yang gulung tikar,tidak bisa membangun kandang yang usiany sudah tua,kemudian menutup usahanya.banyak perusahaan perbankan yang ragu untuk membantu masalah permodalan peternak dan kondisinya terbalik dengan banyaknya perbankan yang siap membantu permodalan  perusahaan inti dalam menyalurkan kredit-kredit peternakannya. Mungkin kita mulai timbul pertanyaan dalam hati kita bisnis atau polanya yang salah?

Terlalu banyak masalah dan compleks yang tidak bisa peternak secara individu memecahkan dan mencari solusinya sendiri butuh bantuan pihak-pihak terkait seperti pemerintah,swasta,akademisi, maupun lembaga-lembaga untuk menjadikan petani merdeka di ladang sendiri dan menjadikan berkharakter dan mempunyai nilai tawar yang tinggi,pemerintah bisa mengawasi persaingan usahanya,perusahaan bisa memberi sponsor-sponsor terhadap pelatihan-pelatihan yang diberikan kepada petani,para akademisi bisa mengajak dan memberikan hasil riset-risetnya,serta lembaga-lebaga bisa mengayomi dan menyatukan para peternak rakyat. Sudah saatnya peternak bersatu duduk bersama untuk mejadi petani yang merdeka,berkarakter dan bangga menjadi petani di negara Agraris ini.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

PENDIDIKAN TINGGI, MIMPI ANAK PETANI MELARAT

Anak Desa Oleh : Boyan Pendidikan yang membumi merupakan pendidikan yang dialogis. Pendidikan yang membumi ini melihat antara teks (teori) pendidikan dengan konteks (realitas social). Di desa kecil di sebuah kawasan Jawa Tengah ada sebuah tipe sekolah menarik, pendidikan untuk anak petani. Dengan cita-cita utama mewujudkan sebuah system pendidikan yang berguna bagi kehidupan. Pendidikan anak petani merupakan pendidikan pemberontakan. Sebuah bentuk pendidikan yang lain dari apa yang kita saksikan selama ini. Dimana pendidikan hanya mengajarkan bagaimana seseorang tergantung pada universitas (SMA) dan tekhnologi (SMK). Pendidikan alternative membetot segala silang sengkarut pendidikan yang selama ini hanya bagus di teks (KTSP) tanpa melihat situasi riil yang dihadapi masyarakat. Model pendidikan alternative hadir dari kebutuhan masyarakat yang butuh kelanjutan. Melanjutkan generasi tani yang hamper mati akibat hilangnya potensi desa karena ditinggal sebagian terbesar tenaga ke...

MASALAH AGRARIA, PETANI DAN KEDAULATAN

Aksi Petani Tuntut Keadilan Agraria Oleh: Firmansyah Tasril Siapa menguasai tanah, ia menguasai pangan, atau ia menguasai sarana-sarana kehidupan. siapa menguasai sarana kehidupan, ia menguasai manusia! Barangkali motto inilah yang mengantarkan Christoper Columbus secara filosofis mendarat di sebuah benua yang selanjutnya di berinama Amerika. Dari penemuan ini jualah hasrat akan penguasaan sumber-sumber kehidupan dan sumberdaya alam mulai tak tertahankan. Sehingga penduduk asli benua harus diperangi, tersingkir dan kehilangan akan hak atas tanah moyang (ulayat) dan sumber kehidupan. Ekspansi fisik dan kekuatan bersenjata merupakan metode efektif dalam menguasai hak orang lain, lalu dibuatlah legalisasi kepemilikan atas hak orang lain itu dengan menggunakan pendekatan hukum. Lain kata, ‘merampok’ tapi dianggap sah secara hukum. Aneh bukan?! Metode dengan penggunaan kekuatan senjata adalah metode konvensional yang dilakukan beberapa abad yang lalu. Artinya, hasrat untuk meng...

SUDAHKAH PETANI KITA MERDEKA?

Merdeka? Jika diukur dari umur, usia negeri ini tidak ada apa-apanya dari usia petani. Sebelum negeri bernama Indonesia berdiri, eksistensi petani sudah jauh diakui. Dalam naskah-naskah sejarah diuraikan, petani dan warga perdesaan merupakan penopang utama keberhasilan merebut kemerdekaan. Tidak hanya menyediakan tempat persembunyian, peran petani dan warga perdesaan paling penting ialah menjamin logistik para pejuang. Mustahil pejuang menang berjuang dengan perut kosong. Pertanyaannya, sudahkah petani kita merdeka? Jumlah petani saat ini mencapai 54% dari jumlah rakyat Indonesia. Logikanya, jika rakyat merasakan kemerdekaan, otomatis kemerdekaan juga dirasakan petani. Jika tidak, siapa sebenarnya yang memetik kemerdekaan selama 72 tahun ini? Bagaimanakah kehidupan petani setelah 72 tahun merdeka: apakah semakin sejahtera, tetap, atau bahkan kian menderita? Benarkah petani semakin tidak berdaya? Apakah indikasinya? Bagaimana membuat mereka merdeka dalam arti ses...