Kabupaten Banyuwangi, tanah yang terletak paling ujung timur tanah jawa tersebut memang semakin maju, semenjak tangan halus Azwar Anas memolesnya dengan sedemikian rupa. Sektor pariwisata yang menjadi perhatian khusus, langsung mengundang banyak mata untuk datang ke Banyuwangi. Bahkan, sepertinya Banyuwangi melangkah lebih cepat dari Kabupaten Tetangganya, Kabupaten Jember yang selama ini selalu berada didepannya. Tak pelak jika sosok Azwar Anas langsung naik daun, terobosan terobosan yang ia lakukan, selalu membuat publik terkesan, sehingga ada yang mengatakan bahwa, Anas sudah sejajar dengan Ridwan Kamil Bandung, Tri Rismaharini Surabaya dan Ganjar Pranowo Jawa Tengah yang sudah lebih dulu tancap gas didepan layar kaca.
Namun, dibalik sosok kesantrian seorang Anas, dibalik terobosan terobosan yang ia lakukan, ada kisah pilu di dari masyarakatnya yang berada di daerah paling selatan Kabupaten Banyuwangi. Tepatnya di dekat tambanh Tumpang Pitu.
Pulau merah yang selama ini menjadi destinasi wisata unggulan Banyuwangi, kini menjadi obyek wisata paling menakutkan, karena tambang Tumpang Pitu mulai menebar rasa kengerian. Bulan Agustus lalu, sepanjang pantai Tumpang Pitu tertutup oleh lumpur, sehingga membuar air pantai menjadi keruh, seketika pemandangan Tumpang Pitu berubah warna jadi coklat pekat. Warga sekitar mulai dihinggapi rasa takut, ada yang khawatir akan terjadi longsor, banjir bahkan ada yang khawatir jika sewaktu waktu terjadi banjir tsunami.
Anehnya, Dinas terkait menyikapinya dengan santai, seolah tidak terjadi apa-apa, menurut mereka, lumpur yang menutupi pantai tidak berbahaya, karena tambang di Tumpang Pitu belum aktiv, seolah tidak ada upaya untuk mencari tau darimana dan apa penyebab lumpur tersebut membanjiri pantai, serta bagaimana tindakan yang akan diambil untuk selanjutnya. Sementara, sang rezim pilih bungkam dengan kejadian tersebut.
Setelah banjir lumpur menutupi pantai pulau merah. Kini, semakin maju bergerak ke ladang masyarakat, puluhan hektar ladang yang ditanami jagung, berubah menjadi pemandangan menyakitkan, tidak ada sisa, semuanya mati dan dipastikan petani gagal tanam. Lagi lagi sampai saat ini sang rezim tidak kunjung mengambil sikap. Padahal banjir lumpur sudah setinggi lutut para petani.
Hari tani yang seharusnya dirayakan dengan suka cita, namun petani di sekitar tambang Tumpang Pitu harus tertunduk meneteskan air mata, melihat ladangnya tak ada sisa. Inikah yang dimaksud dengan Revolusi Agraria?
Robith Fahmi
Petani di Desa Curahlele

Komentar
Posting Komentar